Pemberdayaan Open Source di Pedalaman Aceh

takengonopensource(Gambar : Dr Jonas Smedegaard sedang membahas rancangan software Distro Deep-IX bersama mahasiswa FT UGP sambil duduk bersila.) Kehadiran Dr. Jonas Smedegaard, pakar telematika Debian Open Source dari Denmark ke Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon Aceh Tengah dimanfaatkan oleh mahasiswa Fakultas Teknik UGP untuk menyempurnakan software yang sedang mereka rancang.

Sebagai pakar Open Source, Dr Jonas Smedegaard tidak merasa canggung duduk bersila (lesehan) di atas tikar plastik untuk mengajar dan menyempurnakan hasil karya para mahasiswa itu.

Fantastisnya lagi, proses belajar mengajar antara pakar telematika dari Denmark ini dengan mahasiswa perguruan tinggi swasta itu berlangsung di sebuah tempat sangat sederhana. Sulit membayangkan jika seorang pakar atau dosen pengajar di tanah air bersedia duduk bersila bersama mahasiswa di sebuah “rumah kos” alias lab FT UGP yang sangat sederhana, tanpa meja tanpa kursi. Tempat belajarnya hanya selembar tikar yang digelar di atas lantai semen. Tetapi kenapa Mr. Smedegaard mau dan tidak risih?

Kunjungan Mr. Smedegaard ke FT UGP atas biaya sendiri untuk mengajar pengembangan software Open Source bagi kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Pengguna Linux Takengon (PELITA). Dia seorang relawan dari Debian di Denmark yang datang ke kota kecil Takengon sebagai narasumber pada acara Seminar Nasional Learning Management System dan peluncuran tiga rancangan software karya mahasiswa FT UGP, minggu lalu.

Dimana Mr. Smedegaard menginap? Bukan di hotel, tetapi di rumah sederhana milik Zulfikar Ahmad, seorang dosen FT UGP Takengon. Hasil pengamatan kompasianer, dia tidur di loteng yang berlantai kayu beralaskan kasur busa. Melihat kesediaan seorang pakar telematika tidur ditempat semacam itu, terkesan seperti seorang backpacker. Tetapi itulah kenyataannya, barangkali dia bisa menikmati kondisi kesederhanaan yang tidak ditemukan di negaranya.

Mr. Smedegaard bersedia meluangkan waktunya bersama mahasiswa FT UGP karena ingin menyempurnakan rancangan software karya mahasiswa dari perguruan tinggi swasta yang berdiri tahun 1980-an. Proses penyempurnaan itu berlangsung bukan di tempat khusus atau kampus, melainkan di ruang sederhana yang mereka namakan lab, sering juga di rumah sederhana milik dosen FT UGP, Zulfikar Ahmad. Bila dosen-dosen di negeri kita mau berjibaku seperti Mr. Smedegaard, tidak mustahil akan lahir orang-orang kreatif dari seluruh pelosok negeri ini.

Kemudian, keberhasilan Neni Wahyuni mahasiswi FT UGP yang juga seorang penjaga warnet merancang software pendeteksi kebakaran hutan, lalu Hari Santoso seorang petugas kebersihan hotel bersama kawan-kawannya yang merancang software penentu lahan yang paling sesuai untuk menanam kopi arabika gayo, ternyata telah menarik perhatian media. Hari ini, Sabtu (24/12) mereka diundang Serambi FM Banda Aceh untuk wawancara khusus tentang fungsi software itu, lalu Minggu (25/12) diundang lagi oleh TVRI untuk wawancara tentang kisah sukses mereka. Mengharukan….

Kiriman dari Abati Fikar ke helpdeskpusat@aosi.or.id

published by admin on Tue, 2011-12-27 11:29:31

Leave a Reply

Skip to toolbar